Minggu, 04 Maret 2012

Candi Ratu Boko

Candi Ratu Boko ini dibangun pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran, salah satu keturunan Wangsa Syailendra.

Kompleks Candi Ratu Boko pertama kali ditemukan pada tahun 1790 oleh van Boeckhlotz. Namun, baru seratus tahun setelahnya, penelitian serius terhadap candi ini dilakukan dan dipublikasikan dalam buku Keraton van Ratoe Boko. Menurut anggapan para ahli sejarah, candi ini memiliki multifungsi, yakni sebagai benteng keraton, tempat ibadah, dan gua.

Keseluruhan areal candi yang terletak sekitar 196 m di atas permukaan laut ini adalah 250.000 m2, yang ­terbagi atas empat bagian, yaitu tengah, barat, tenggara, dan timur. Bagian tengah candi ini terdiri dari bangunan gapura utama, lapangan, candi pembakaran, kolam, batu berumpak, dan paseban. Bagian tenggara meliputi pendopo, balai-balai, tiga buah candi, kolam, dan kompleks keputren. Pada bagian ini juga terdapat sebuah sumur bernama Amerta Mantana yang artinya air suci. Konon, air dalam sumur ini memiliki khasiat yang dapat membawa keberuntungan bagi pemakainya. Di bagian timur terdapat kompleks gua, stupa Buddha, dan kolam. Sedangkan di bagian barat terdapat perbukitan yang sangat menarik untuk dijadikan lokasi beristirahat setelah lelah mengelilingi kawasan candi ini.

Candi Ratu Boko memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh candi-candi lainnya di Yogyakarta dan Jawa Tengah, yang pada umumnya dibuat hanya untuk tempat ibadah. Peninggalan di situs Candi Ratu Boko menunjukkan bahwa bangunan tersebut memiliki sifat profan yang ditunjukkan dengan keberadaan keputren dan paseban.

Di samping itu, di dalam bangunan candi ini juga dapat terlihat adanya perpaduan antara unsur-unsur Hindu dan Buddha. Hal ini terlihat dari adanya patung Lingga dan Yoni, Arca Ganesha, serta lempengan emas yang bertuliskan Om Rudra ya namah swaha. Lempengan tersebut menyiratkan satu bentuk pemujaan terhadap Dewa Rudra, nama lain dari Dewa Siwa. Kenyataan ini menggambarkan bahwa Rakai Panangkaran, sang pemrakarsa candi, yang beragama Budha dapat menghargai warganya yang menganut agama Hindu.

Dari salah satu bagian di candi ini, tepatnya di Plaza Andrawina, jika menghadap ke arah utara, pengunjung akan melihat pemadangan yang cantik berupa Kota Yogyakarta dan Candi Prambanan, dengan Gunung Merapi sebagai latar belakangnya. Jika pengunjung berada di lokasi candi ini hingga matahari terbenam, nuansa sekitar candi akan semakin cantik dengan kehadiran semburat jingga di waktu senja.

Kawasan Candi Ratu Boko terletak sekitar 17 km sebelah timur Kota Yogyakarta. Tepatnya di Kecamatan Bokoharjo, Kabupaten Sleman, Provinsi DI Yogyakarta, Indonesia.